Beranda HEADLINE Manuver Jenderal Dalam Pilkada Jabar

Manuver Jenderal Dalam Pilkada Jabar

79
BERBAGI

Foto: Istimewa

DKI.KABARDAERAH.COM – Manuver Prabowo di Jabar dengan menunjuk Mayjen (Purn), membuat semua peta politik lawan di Jabar berantakan. PDIP mati langkah, Ridwan Kamil galau berat, semua kekuatan politik di Jabar saat ini pada H2C (Harap-Harap Cemas).

“Demokrat yang dulu begitu jumawa, sekarang hanya bisa gigit jari, PDIP yang sejak awal sangat santai, hari ini begitu pucat auranya melihat konstelasi politik terkini. Nasdem yang dulu sangat pede menunjuk Ridwan kamil sejak awal, sekarang dibuat kepusingan sendiri,” ungkap Tengku Zulkifli Usman, Analis Politik, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (26/12).

“Saya Haqqul yakin PAN dan PKS akan bersama Gerindra mengusung Mayjen (Purn) Sudrajat, inilah yang kita dorong dari awal, bahkan saya sudah buat analisa khusus minggu lalu tentang simulasi koalisi ini,” lanjutnya.

Menurut Zulkifli, nama Sudrajat memang tidak populer secara elektabilitas saat ini, namun Sudrajat adalah tokoh yang sangat mumpuni untuk sekedar kelas Gubernur. Kelas Sudrajat sebenarnya adalah level nasional bukan provinsi, disinilah kita bisa paham, bahwa partner partner politik Prabowo adalah orang orang hebat tapi tidak suka pencitraan dan baperan didepan kaca.

“Yang menyalahkan Prabowo mengajukan nama Sudrajat dengan hujatan ambisiusnya Ketua Gerindra Jabar Mulyadi, adalah mereka mereka yang gak paham medan politik sedikitpun, buta tapi merasa melihat. Penunjukan nama Sudrajat rupanya sudah disiapkan Prabowo jauh-jauh hari sebagai alternatif utama bersama tim politiknya bahkan tanpa melibatkan Ketua Gerindra Jabar,” jelas Zulkifli.

“Saya heran banyak pihak yang berani menuduh Prabowo bodoh hanya karena Prabowo menolak nama Demiz-Syaikhu. Padahal secara politik justru disini PKS dan PAN yang gak sadar jadi korban pencitraan Demokrat agar mau mengusung kadernya Demiz,” terangnya lagi.

PKS-PAN masuk perangkap jebakan demokrat, lanjut Zulkifli, padahal tujuan utama Demokrat adalah mendongkrak nama AHY lewat tangan Demiz. Kemungkinan besar PAN-PKS akan segera keluar dari perangkap yang menyesatkan tersebut, PKS-PAN sudah kasih sinyal ikut gerbong Sudrajat. Bahkan bukan hanya di Jabar, di Jateng, begitu Prabowo memilih nama Sudirman Said sebagai Cagub, PKS-PAN juga langsung siap berkoalisi.

Pilihan-pilihan Prabowo memang harus diakui sebagai pilihan seorang yang benar-benar berkelas mantan Letnan Jenderal Kopassus. Berani hati-hati, akurat, dan benar-benar ampuh merontokkan strategi lawan, Prabowo dalam hal ini sangat lihai,” imbuh Zulkifli.

Menurutnya, Prabowo berani mengumumkan nama Sudrajat yang tidak populer itu bahkan saat satupun partai belum ada yang mau koalisi. Padahal kursi Gerindra jelas tidak cukup, inilah keputusan mental Panglima. Saat ini PDIP secara terang terangan memuji langkah Prabowo tersebut lewat salah satu Ketua DPP Prof Hendrawan Supratikno, maunya sih gabung tapi malu-malu.

“Saya lihat, sejak nama Sudrajat muncul dan langsung roadshow mengenalkan diri ke masyarakat dengan tagline “Bebersih Jabar” semua langkah lawan seolah diatur Prabowo. Sampai-sampai Golkar sempat memikirkan ulang untuk mencabut dukungan untuk Ridwan Kamil, ini bukan saja efek Golkar ganti Ketua Umum, tapi efek suhu politik Jabar yang berubah drastis dengan munculnya nama Sudrajat plus elektabilitas Sudrajat yang mulai naik,” tegasnya.

Data dilapangan menunjukkan peluang Sudrajat mengalahkan lawan-lawannya termasuk RK sangat besar. Apalagi saat PKS-PAN firm ikut koalisi Gerindra ini, yang mereka kompak menyebutnya sebagai koalisi Reuni menggantikan paket pasangan sebelumnya: Koalisi zaman now.

“Bagaimana nasib PPP, PKB, HANURA, NASDEM DAN PDIP pasca ada Mayjen Sudrajat? kalau kata orang kampung saya, tenggelamkan!,” pungkas Zulkifli.

Penulis: M. Akbar Rosbian